Lompat ke konten

Ulama Kharismatik, Sesepuh Nahdlatul Ulama, dan Pendiri Pondok Pesantren Qamarul Huda Bagu

Tuan Guru Haji (TGH) Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin merupakan salah satu ulama kharismatik paling berpengaruh di Nusa Tenggara Barat (NTB) sekaligus tokoh sentral Nahdlatul Ulama (NU) di kawasan Indonesia Timur. Selama lebih dari enam dekade, beliau mengabdikan hidupnya untuk dakwah, pendidikan pesantren, pengembangan masyarakat, dan penguatan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Karena keluasan ilmu, ketawadhuan, dan keteguhannya dalam menjaga tradisi pesantren, beliau dikenal luas dengan sebutan “Tuan Guru Bagu”, merujuk pada kampung halaman sekaligus pusat dakwahnya di Desa Bagu, Lombok Tengah. (Setneg)

Masa Kecil dan Latar Belakang Keluarga

TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin lahir pada 1 April 1936 atau bertepatan dengan 9 Muharram 1355 Hijriah di Desa Bagu, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Beliau merupakan putra pasangan TGH Raden Badaruddin dan Hj. Aminah binti Haji Ridwan, keluarga ulama terpandang yang sejak lama menjadi rujukan masyarakat dalam bidang keagamaan. (Setneg)

Sejak usia dini beliau telah mendapatkan pendidikan agama langsung dari ayahnya. Al-Qur’an mulai dipelajari ketika masih berusia sekitar lima tahun. Lingkungan keluarga yang religius membentuk karakter beliau menjadi pribadi yang disiplin, sederhana, dan memiliki kecintaan mendalam terhadap ilmu agama. (Setneg)

Menimba Ilmu di Lombok dan Tanah Suci

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar agama di bawah bimbingan ayahnya, beliau melanjutkan pendidikan kepada ulama besar Lombok, TGH Muhammad Shaleh Hambali, pendiri Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel. Selama kurang lebih 14 tahun (1944–1958) beliau mendalami berbagai disiplin ilmu Islam, mulai dari fikih, tafsir, hadis, tauhid, tasawuf, hingga ilmu alat. (Setneg)

Semangat menuntut ilmu membawanya melanjutkan rihlah ilmiah ke Makkah, Arab Saudi, tempat beliau memperdalam ilmu agama selama beberapa tahun di lingkungan Masjidil Haram kepada sejumlah ulama terkemuka. Masa pendidikan di Tanah Suci menjadi fondasi penting yang memperkaya wawasan keilmuan dan memperkuat sanad keilmuan beliau. (Setneg)

Mendirikan Pondok Pesantren Qamarul Huda

Sekembalinya dari Makkah pada tahun 1962, TGH Turmudzi mendirikan Pondok Pesantren Qamarul Huda Bagu di Desa Bagu, Lombok Tengah. Berawal dari lembaga pendidikan sederhana, pesantren tersebut berkembang menjadi salah satu institusi pendidikan Islam terbesar di Nusa Tenggara Barat, yang menyelenggarakan pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. (Liputan6.com)

Di bawah kepemimpinan beliau, Pondok Pesantren Qamarul Huda tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga berkembang sebagai pusat pemberdayaan masyarakat melalui layanan sosial, kesehatan, dan pengembangan sumber daya manusia.

Kiprah di Nahdlatul Ulama

Pengabdian TGH Turmudzi kepada Nahdlatul Ulama dimulai dari tingkat paling bawah. Tahun 1970, beliau dipercaya menjadi Rais Syuriyah Ranting NU Desa Bagu, kemudian menjabat Rais Syuriyah MWC NU, Wakil Rais Syuriyah PCNU Lombok Tengah, Wakil Rais Syuriyah PWNU NTB, hingga akhirnya menjadi Rais Syuriyah PWNU Nusa Tenggara Barat. Beliau juga dipercaya sebagai Mustasyar PBNU, posisi penasihat tertinggi dalam struktur organisasi Nahdlatul Ulama. (Setneg)

Beliau dikenal sebagai salah satu sahabat dekat sekaligus tokoh yang sangat dihormati oleh KH Abdurrahman Wahid. Hubungan keduanya telah terjalin sejak lama dan memberi warna penting dalam perjalanan organisasi Nahdlatul Ulama. (Liputan6.com)

Pada Muktamar NU ke-33 dan ke-34, beliau dipercaya sebagai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), lembaga yang memiliki kewenangan strategis dalam proses pemilihan Rais Aam PBNU. Pada tahun 2026, PWNU NTB kembali mengusulkan beliau menjadi anggota AHWA untuk Muktamar ke-35 NU. (NU Online)

Peran Nasional

Selain dikenal sebagai ulama pesantren, TGH Turmudzi juga menjadi tokoh pemersatu umat yang sering dimintai pandangan mengenai persoalan kebangsaan.

Pada tahun 2023, Wakil Presiden Ma’ruf Amin secara khusus mengunjungi beliau di Pondok Pesantren Qamarul Huda sebagai bentuk penghormatan kepada salah satu sesepuh Nahdlatul Ulama. Kunjungan tersebut menunjukkan besarnya penghormatan pemerintah terhadap kiprah beliau dalam pendidikan Islam dan pembangunan masyarakat. (Setneg)

Pendidikan dan Dakwah

Dalam dunia pendidikan, TGH Turmudzi dikenal sebagai ulama yang menggabungkan sistem pesantren salaf dengan pendidikan modern. Ribuan santri dari berbagai daerah di Indonesia pernah menimba ilmu di bawah bimbingannya.

Beliau juga dikenal sebagai Mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, yang aktif membimbing masyarakat dalam penguatan akhlak, tasawuf, dan kehidupan spiritual. Salah satu warisan penting beliau adalah kitab kumpulan wirid dan doa berjudul Zadul Ma’ad, yang digunakan oleh banyak kalangan Nahdliyin. (NU Online)

Karakter Kepemimpinan

Di kalangan masyarakat Lombok, TGH Turmudzi dikenal sebagai sosok yang:

  • Berilmu luas dengan sanad keilmuan yang kuat.
  • Rendah hati dan istiqamah dalam berdakwah.
  • Konsisten menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
  • Mengutamakan musyawarah dan persatuan umat.
  • Berkomitmen mengembangkan pendidikan sebagai jalan membangun peradaban.

Kesederhanaan hidupnya menjadikan beliau dihormati lintas generasi, baik oleh kalangan pesantren, pemerintah, maupun masyarakat umum.

Warisan dan Pengaruh

Lebih dari enam puluh tahun pengabdian beliau telah melahirkan ribuan alumni pesantren yang kini menjadi ulama, pendidik, birokrat, akademisi, dan pemimpin masyarakat di berbagai daerah. Pondok Pesantren Qamarul Huda Bagu berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Nusa Tenggara Barat dan menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan Nahdlatul Ulama di kawasan timur Indonesia. (iSi Lombok)

TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin merupakan representasi ulama Nusantara yang memadukan kedalaman ilmu, keteladanan akhlak, dan kepemimpinan yang mengakar di tengah masyarakat. Dedikasinya terhadap pendidikan, dakwah, dan penguatan Nahdlatul Ulama menjadikan beliau sebagai salah satu tokoh Islam paling berpengaruh di Nusa Tenggara Barat sekaligus salah satu sesepuh NU yang dihormati di tingkat nasional.